Bunda menyuruhku berbicara, padahal tidak mampu mendengarkan.
Bolehkah aku memulai dengan sebuah jawaban atas apa yang dikhawatirkan orang terdekat-ku? Mengenai sikap menyenangkan yang aku utarakan pada orang lain, aku tidak begitu ceria kalau bersama keluarga-ku. Aku ingin memberi sebuah tanggapan kalau di luar sana bahkan orang-orang yang hanya berjumpa sekali dan tidak bersua ria lagi padaku, mereka mau mendengarkan aku berbicara. Mereka mau mendengarkan kisah-kisah ku tanpa memandang aku adalah anak yang gagal dan payah. Aku berbagi pada mereka, mereka menerimaku dengan lapang.
Bunda, ketika aku lahir di dunia, kau tidak bertanya tentang pendapat-ku mengenai nama yang diberikan padaku apakah aku menyukainya. Aku belum mampu berbicara saat itu, aku hanya bisa menangis karna dunia terlalu menyeramkan, Bunda.
Memang waktu berjalan cepat sekali, aku sudah bisa duduk di bangku Sekolah Dasar, katamu. Aku senang, bukan kepalang. Ku pikir aku bisa memilih di mana tempat aku bisa bertumbuh, namun aku linglung. Bunda membiarkanku berpasrah atas keinginannya, Bunda berbincang padaku bahwa Sekolah Dasar itu bagus, aku pasti menyukainya. Aku diam, aku masih bocah ingusan dengan rambut ikal kuncir kuda waktu itu.
Lalu, sudah waktunya seragamku naik tingkat. Putih biru akan sangat berkesan, pikirku. Lagi, Bunda membiarkanku berpasrah atas kehendaknya, aku tidak marah namun tidak senang juga. Aku hanya bingung. Hidupku memang tidak punya tujuan, ya?
Aku melangkahkan kaki masuk ke dalam gerbang dan banyak sekali orang-orang dengan celana atau rok abu-abu. Aku sudah beranjak Sekolah Menengah Kejuruan. Sudah ku bayangkan akan masuk sesuai jurusan yang aku inginkan, walaupun aku tidak tahu pasti benarkah dia menjadi keinginanku? Tapi Bunda, membiarkan dirinya mengatur bebas apa yang aku inginkan. Aku masih tidak berdaya saat itu.
Resmi! Aku menjadi mahasiswi sebuah kampus, yang kalian sudah bisa menebaknya, kampus yang diinginkan keluarga-ku dan bukan aku. Sudah ku bilang kan, aku tidak punya tujuan.
Bunda, bagaimana sekarang aku memutuskan diriku menjadi seperti apa kalau aku tidak punya tujuan? Bunda, ku turuti semua yang kau bicarakan padaku tapi mengapa mereka menyebutku gagal, Bunda?
Bunda, aku bahkan tidak memaksamu untuk memberikan apa yang orang lain miliki, Bunda. Aku hanya mengadahkan tangan membiarkan dirimu memberikan apa yang kau miliki, Bunda.
Sudah ku relakan semuanya, Bunda. Sudah ku laksanakan perintahmu, Bunda. Sampai aku melewati batas toleransi pada diriku, sampai aku tidak mempunyai jalan-ku sendiri, Bunda.
Bunda, kalau kehidupan membuatku disebut gagal. Akankah kematian-ku memberikan aku kedamaian, Bunda?


Comments
Post a Comment