penuh debu

 Aku sudah lama tidak tenggelam dalam tulisan, ya.
"sudah bahagia dengan dunia nyata?" tidak juga.

Sekarang, aku sedang sibuk bekerja. Aku juga sibuk menyayangi laki-laki, aku tau aku akan selalu bodoh bin dungu kalau berbincang tentang laki-laki dan cinta. Tapi vario hitam yang dia punya, tinggi tegap postur badannya, kebiasaan-kebiasaan baik yang dia lakukan, memijat kepalaku, mengusap punggungku, menjadi banyak hal yang sejujurnya aku jadi kepalang ingin jatuh cinta lagi.

Namun ternyata logika masih berlari padaku, menggema dalam otakku.


Bagaimana kalau laki-laki itu seperti Ayah?


Rasanya batinku masih penuh sayatan tentang ingatan hari itu, aku hanya bisa menangis sepanjang perjalanan pulang. Jenjang kaki-ku terasa tidak sanggup, aku banyak berhenti hanya untuk menangis dan rasanya hampir pingsan.

Aku tidak percaya pada cinta pertama anak perempuan, aku tidak percaya pada Ayah. Karna aku anak kecil (re:perempuan) yang sedari dulu memeluk lutut serta lukanya sendirian.

Semuanya memang terasa sia-sia. Rokok hanya sebatas ku hisap, alkohol hanya membuat ku sakit kepala. Aku mencoba pergi sejauh mungkin, tapi yang tidak ku ketahui adalah aku tetap membawa luka yang sudah berabad-abad menyatu dalam nadiku.

Setiap saat seperti aku berusaha untuk bahagia, ku cari objek itu lalu dia datang dan terlaksana dengan baik. Sayangnya, rasa sedih-ku lebih unggul dari apapun. Mungkin aku ditakdirkan begitu.

Padahal aku hanya ingin dipeluk yang paling erat, aku hanya ingin dicintai dan percaya pada cinta lagi. Aku butuh matahari, aku butuh angin, aku butuh air hujan, aku tidak mau menjadi bunga yang layu kemudian mati.


23.23

Comments

Popular Posts