Sejak 1999


Hari pertama ketika aku resmi berusia 20 tahun, ku awali dengan pertengkaran hebat bersama Ibu lalu mengikhlaskan laki-laki yang aku cintai sepenuh jiwa.

Siapa mengira saat hari bahagiaku, aku akan menangis sejadi-jadinya dan tidak ada yang memelukku selain tangisanku sendiri. Ku putuskan mulai saat itu, aku membenci hari ulang tahun-ku.

Tetapi hidup harus tetap berjalan sebagaimana mestinya. Musim berganti. Rasa sakit yang perlahan membaik walaupun ku ulang sekali lagi, aku tetap membenci hari ulang tahun-ku.

Aku mempelajari banyak hal tentang bagaimana untuk tidak menjadi dendam padahal ia berada di dekatmu. Ku lewati banyak kesan lalu mencapai sebuah pemahaman kalau tidak satupun yang mampu mengobati luka selain dirimu seorang.

Suara teriakan yang mengatakan bahwa aku sudah sembuh, ternyata hanyalah seperkian detik dari kenyataan bahwa hidup dimulai ketika aku menapakkan kaki pada angka 20 tahun.

Pikirku dewasa bukanlah tentang bilangan, saat kau mempunyai kartu tanda penduduk, mampu berpendapat dan mengeluarkan isi kepalamu atau tidak takut pada jajanan pinggir jalan. Dewasa adalah tentang bagaimana kau membiarkan roti rasa favoritmu menjadi hak milik orang lain karna ia lebih membutuhkannya atau kecewa karna restoran ramen yang sangat ingin kau kunjungi sore itu terpasang papan kayu bertuliskan "Tutup".

Isi kepala yang tidak semuanya sama dan beriringan tapi mampu menemukan cara paling baik untuk diselesaikan. Aku tidak paham betul, dewasa memang kepalang rumit.

Kalau kau membaca ini dan usia mu sudah berada di 20 tahun atau sialnya lagi lebih dari itu, tak masalah karna kita berbeda. Ini tulisanku, aku tidak tahu akan seperti apa tulisanmu nanti. Tapi aku yakin ada persamaan antara kita, aku dan kau adalah pejuang hebat yang senantiasa diberkati dan Tuhan menyayangimu, selalu.


Ini adalah photo langit yang ku ambil pada bulan November lalu. Menyejukkan mata walaupun kala itu pikiranku kalut dan hatiku remuk.



Comments

Popular Posts